Dibalik Sebuah Pintu (part 3)

Joan duduk termenung, menatap layar komputer tetapi dengan mata kosong. Pikirannya melayang, tidak dapat fokus. Sesekali jemarinya menggerakkan kursor dengan mouse. Atas, bawah kemudian atas lagi. Sudah 30 menit lamanya ia melakukan hal yang sama. Lalu dengan gerakan mendadak, ia mengacak-acak rambutnya dengan tangan kiri dan bersender pada kursi. Keningnya mengernyit tanda tak mengerti. Dengan satu tarikan nafas yang panjang, ia menghembuskannya saat itu juga.

Pusing, nggak ngerti!

Kemudian tangan kirinya yang semula berada diatas kepala, ia letakkan diatas meja dan mulai menopang dagu. Cemberut, muka masam, pusing, sebut saja semua yang pasti tergambar diwajahnya saat itu. Lalu matanya melirik kelayar laptop yang berada disisi lain dari meja tempat ia bekerja.

To Be Continued…

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.