Dibalik Sebuah Pintu (part 3)

Joan duduk termenung, menatap layar komputer tetapi dengan mata kosong. Pikirannya melayang, tidak dapat fokus. Sesekali jemarinya menggerakkan kursor dengan mouse. Atas, bawah kemudian atas lagi. Sudah 30 menit lamanya ia melakukan hal yang sama. Lalu dengan gerakan mendadak, ia mengacak-acak rambutnya dengan tangan kiri dan bersender pada kursi. Keningnya mengernyit tanda tak mengerti. Dengan satu tarikan nafas yang panjang, ia menghembuskannya saat itu juga.

Pusing, nggak ngerti!

Kemudian tangan kirinya yang semula berada diatas kepala, ia letakkan diatas meja dan mulai menopang dagu. Cemberut, muka masam, pusing, sebut saja semua yang pasti tergambar diwajahnya saat itu. Lalu matanya melirik kelayar laptop yang berada disisi lain dari meja tempat ia bekerja.

To Be Continued…

A dream is still a dream, not forgotten yet just delayed

All I want to do in life is being an astronomer. Seeking the truth of universe among the stars. Silly, isn’t it? Well, not to me, because when I see the stars above, I feel so small. Tiny little thing in universe, compare to it. There’s so much mystery in it, and I want to seek those. But now, I’m a geophysicists, so out of context. What should I do now? Follow my dream? Or just stay?

Untuk Kamu Yang Di Sana

Apa kabar?
Lama tak bersua, lama tak berkomunikasi.
Baik-baik sajakah kamu?
Aku harap begitu karena jujur saja, aku tidak merasa demikian.
Feeling buruk, sebut saja begitu.
Karena begitu adanya yang kurasakan.
Aku tidak tahu apa yang terjadi denganmu.
Kamu tidak mau cerita, ditanya selalu bilang baik-baik saja.
Tapi sepertinya tidak.
Bagaimana aku bisa tahu?
Aku bukanlah pembaca pikiran.

Previous Older Entries

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.